Selasa, 03 September 2013

Freedom with boundaries

Masih ingat kasus Prita? bermula karena ketidakpuasan terhadap RS Omni International, Prita menuliskan ketidakpuasannya melalui email dan mengirimkannya ke sebuah milis dan akhirnya surel tersebut menyebar kemana-mana. Karena tindakannya itu, Prita dituntut oleh RS Omni International atas tuduhan "Pencemaran Nama Baik". Setelah menjalani persidangan selama hampir kurang lebih 4 tahun, akhirnya Prita dinyatakan tidak bersalah pada Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung (MA).
Membaca kronologis ceritanya, terbersit rasa ngeri. Maksud hati hanya ingin mengungkapkan ekspresi, ternyata malah harus berlanjut ke persidangan. Untungnya Prita akhirnya dibebaskan. Bagaimana jika ternyata keputusan PK MA adalah sebaliknya?huff...kemana lagi harus mengadu, saat sebuah ungkapan ekspresi saja dilarang. Membaca UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik), saya melihat Prita dikenai tuduhan berdasarkan Pasal 27 (3) yang berbunyi seperti ini :
"Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik"
Serem juga ya, karena menurut saya pasal ini luas sekali, apa yang dimaksud dengan penghinaan dan pencemaran nama baik tidak dijelaskan disini (mungkin dijelaskan di pertauran lain tapi saya tidak tahu). Jika tidak ada penjelasannya, hal ini bisa menjadi sangat subjektif. Tergantung pandangan siapa, mungkin suatu hal bisa merupakan penghinaan bagi seseorang namun orang lain ada yang tidak menganggapnya suatu penghinaan...bingung ya..Padahal di negara kita memang sudah ada kebebasan berekspresi, ternyata masih ada sandungan.

Bagaimana dengan dinegara lain? negara anggota ASEAN yang lain? Salah satu negara ASEAN yang juga memiliki undang-undang mengenai "dunia maya" ini yaitu Filipina. Negara itu memiliki "cybercrime prevention act" yang disahkan pada 12 September 2012 lalu. Undang-undang ini dimaksudkan untuk menangani aksi pornografi di dunia maya, terutama melindungi kegiatan eksploitasi seksual kepada anak dibawah umur.  Selain itu juga meredam pencurian identitas dan kegiatan spamming, dikatakan oleh pejabat terkait. Namun undang-undang ini juga bisa digunakan untuk menindak pencemaran nama baik atau kata-kata yang dianggap menyerang seseorang di dunia maya, dan mampu diganjar hingga 12 tahun penjara atau denda. Kalimat terakhir itu yang serem juga ya..

Menurut wikipedia disebutkan bahwa Filipina merupakan negara di Asia Tenggara yang memiliki tingkat kebebasan pers tertinggi. Namun beberapa pengamat menyebutkan, adanya "preventif cybercrime" ini melanggar kebebasan berekspresi di Filipina. Bahkan yang terjadi di Filipina justru lebih menyeramkan lagi, banyak wartawan yang terbunuh di Filipina - sejak tahun 1986, lebih dari seratus wartawan Filipina dibunuh- yang menyebabkan negara ini ditempatkan oleh pengawas pers internasional sebagai salah satu tempat berbahaya di dunia bagi wartawan. Jika sudah seperti ini apakah Filipina masih bisa disebut sebagai negara yang memiliki tingkat kebebasan pers tertinggi di Asia Tenggara?

Kebebasan memang bukan berarti bebas sebebas-bebasnya. Menurut saya, memang tetap harus ada batasan terhadap kebebasan ini. Karena jika tidak ada batasan, maka kebebasan seseorang bisa saja mengganggu kebebasan orang lain. Termasuk dalam hal ini kebebasan berekspresi dan berbagi informasi, harus ada batasan yang mengatur. Namun batasannya juga harus jelas dan tidak menimbulkan mutitafsir. Jadi bukan "Freedom without boundaries" namun "Freedoom with boundaries"


Sumber :
1. http://www.tempo.co
2. http://id.wikipedia.org
3. http://www.bbc.co.uk
4. http://www.antaranews.com
5. http://infolengkapterbaru.blogspot.com

10daysforASEAN #Day 8#
Read More

Senin, 02 September 2013

Memiliki Dengan Hati

Masalah tanah selalu menjadi masalah yang sensitif di Indonesia. Entah karena belum ada kejelasan aturan atau bagaimana. Selalu ada beberapa pihak yang bersengketa atas kepemilikan tanah. Saudara saya sendiri pernah mengalaminya, saat akan menjual tanah dan tanahnya diukur oleh "appraisal", ternyata luasnya berkurang hampir 50 m2. Kenapa bisa begitu, ternyata karena tanah itu tidak pernah dipagari oleh saudara saya dan akhirnya diakui oleh orang lain. Dan anehnya, pihak yang mengakui itu bisa membuat sertifikat atas tanah yang bukan miliknya tersebut. huff..entahlah

Masalah sengketa tanah ternyata tidak hanya muncul pada kepemilikan tanah perorangan, namun juga terjadi pada suatu negara. Banyak kasus sengketa wilayah yang terjadi antar negara. Sebut saja sengketa pulau Sipadan dan Ligitan antara Indonesia dan Malaysia, sengketa wilayah di Laut China Selatan antara China, Vietnam dan Filipina, sengketa di Laut China Timur, antara China dan Jepang berkenaan dengan status kepemilikan Pulau Senkaku di Laut China Timur (East China Sea) dan sengketa antara Singapura dan Malaysia atas kepemilikan pulau Pedra Branca. 

Sengketa antara Singapura dan Malaysia atas kepemilikan pulau Pedra Branca sebenarnya telah diajukan ke Mahkamah Internasional yang kemudian memutuskan bahwa pulau Pedra Branca diserahkan kepada Singapura. Alasan yang mendasari keputusan tersebut dikarenakan Singapura telah lama melakukan pendudukan secara efektif (effectivities occupation) dengan cara membangun Mercusuar Horsburgh di pulau tersebut sejak tahun 1851 dan Malaysia sendiri terkesan diam dengan hal itu. Atas keputusan Mahkamah International tersebut, banyak warga Malaysia yang merasa tidak setuju. Mereka merasa pulau tersebut lebih dekat ke Johor sehingga seharusnya menjadi milik Malaysia, lengkapnya dapat dibaca di sini.

Hal ini sebenarnya sedikit mirip dengan kasus negara kita Indonesia tercinta dengan Malaysia terkait sengketa pulau sipadan dan ligitan. Oleh Mahkamah Internasional pulau Sipadan dan Ligitan diserahkan kepada Malaysia dengan alasan pertimbangan effectivity (tanpa memutuskan pada pertanyaan dari perairan teritorial dan batas-batas maritim), yaitu pemerintah Inggris (penjajah Malaysia) telah melakukan tindakan administratif secara nyata berupa penerbitan ordonansi perlindungan satwa burung, pungutan pajak terhadap pengumpulan telur penyu sejak tahun 1930, dan operasi mercu suar sejak 1960-an. 

Dari keputusan Mahkamah International tersebut, baik atas kasus Indonesia vs Malaysia atau kasus Malaysia vs Singapura, mungkin kita bisa mengambil pelajaran bahwa kita harus menjaga apa yang sudah kita miliki. Menjaga disini dalam artian, memberikan perhatian penuh seperti pembangunan wilayah dan lain sebagainya. Memiliki tidak hanya dalam arti formal namun juga dalam tindakan. Jadi memiliki dengan hati lah istilahnya. Kalau dalam kehidupan sehari-hari bisa kita analogikan dengan orang tua dan anak. Jika ada orang tua yang menelantarkan anaknya, apakah salah jika ada orang lain yang kemudian mengadopsi dan mengurusnya dnegan baik. Dari segi kepemilikan secara biologis mungkin orang tua kandung merasa memiliki anak tersebut, namun orang tua angkat yang telah mengadopsi lebih mempunyai keterikatan hati dengan anak tersebut karena telah menjaga dan merawatnya.

Mungkin itulah yang harus diyakini oleh masyarakat negara masing-masing terkait sengketa wilayah antar negara. Apalagi yang telah mendapatkan keputusan Mahkamah International. Mungkin kita harus kembali melihat ke diri kita masing-masing, apakah kita memang berhak memiliki apa yang kita miliki, apakah kita telah memiliki dengan hati? Anggap saja apa yang terjadi menjadi pelajaran bagi kita. Apalagi saat ini kita sedang menuju Komunitas ASEAN 2015, janganlah persengketaan wilayah ini menjadi batu sandungan / hambatan terciptanya Komunitas ASEAN 2015. Bukankah Komunitas ASEAN 2015 ini juga pada akhirnya bertujuan menciptakan kemajuan ekonomi dan pembangunan pada negara-negara anggota ASEAN.

Jadi, marilah kita instropeksi ke dalam diri kita masing-masing. Jadikan semua peristiwa yang terjadi menjadi pelajaran bagi kita. Apakah kita mampu memiliki dengan hati?

Gambar dari sini

Sumber :
1. http://repository.unand.ac.id
2. http://id.wikipedia.org
3. http://international.okezone.com

10daysfor ASEAN # Day 7 #

Read More

Minggu, 01 September 2013

Simbiosis Mutualisme - Laos dan negara-negara ASEAN

Laos merupakan kawasan di Asia tenggara yang berada di antara Myanmar, Thailand dan Vietnam yang menjadikan laos tidak memiliki pantai. Namun, hal ini tidak menjadikan halangan bagi pertumbuhan ekonomi di Laos. Menurut berbagai sumber, pertumbuhan ekonomi Laos saat pada tahun 2012 sangat mengesankan. Pertumbuhan ekonomi Laos yang kuat pada tahun 2012 seakan menegaskan tren jangka panjang negara tersebut yang secara konsisten memiliki catatan pertumbuhan bagus dengan rata-rata 7% per tahun selama 10 tahun terakhir.


Laos memiliki berbagai sumber daya tambang. Laos juga sangat kaya dengan sumber tenaga air. Banyak menghasilkan kayu jati dan cendana. Luas hutan 9 juta hektar dan tingkat vegetasi hutan mencapai sekitar 42%. Pertanian merupakan penopang ekonomi Laos yang terbesar saat ini. Tanaman pertanian utama antara lain padi, jagung, ubi-ubian, kopi, tembakau, kacang tanah dan kapas. Luas tanah garapan sekitar 747 ribu hektar. Dengan sumber daya ini, Laos dapat melakukan kerjasama dengan negara anggota ASEAN di bidang impor dan ekspor. 
Namun, Laos masih kurang sumber daya manusia ahli. Hal ini dikarenakan banyak warga Laos yang berpendidikan tinggi memilih untuk bekerja di Luar Negeri. Dengan menjadi anggota ASEAN, akan lebih mudah bekerjasama dengan sesama negara anggota dan menggunakan  tenaga ahli dari Luar Negeri untuk lebih meningkatkan pertumbuhan ekonomi Laos.

Potensi lainnya yang dapat dikembangkan lagi yaitu potensi wisata. Laos memiliki banyak tempat wisata yang menarik. Sebut saja Vat Sisket Temple di Vientianne, Vat Mai Temple, National Museum (former King’s Palace), Mekong River, Air Terjun Tadleuk, Tham Ting and Tham Phum, Ban Xang Hai village dan masih banyak lagi. Dengan potensi ini, pertumbuhan wisata Laos juga sangat pesat. Bahkan Laos dinobatkan sebagai Tujuan Turis Terbaik di Dunia 2013 oleh Dewan Pariwisata dan Perdagangan Eropa (ECTT). Dengan menjadi anggota ASEAN diharapkan potensi Laos dalam pariwisata semakin meningkat. Perjanjian kerjasama di bidang pariwisata dengan negara anggota ASEAN, misalkan dalam pembebasan visa masuk untuk negara anggota ASEAN dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Loas dan hal ini tentu saja semakin meningkatkan industri pariwisata di Vietnam. Otomatis akan berpengaruh juga terhadap pertumbuhan ekonomi negara tersebut.




Gambar dari sini
Dengan menjadi anggota ASEAN, diharapkan dapat meningkatkan kerjasama di berbagai bidang dengan negara-negara anggota ASEAN yang lain. Untuk mengatasi ketertinggalan ekonomi Laos bukankah dibutuhkan dukungan dari negara sekitarnya terutama ASEAN. Keberhasilan Laos dalam memajukan perekonomiannya akan mempermudah ASEAN dalam mewujudkan integrasi negara itu ke dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sehingga terciptalah hubungan simbiosis mutualisme (hubungan yang saling menguntungkan antar Negara ASEAN).


Sumber :
1. http://ditjenkpi.kemendag.go.id
2. http://indo.wsj.com
3. http://indonesian.cri.cn
4. http://internasional.kompas.com
5. http://www.bisnis.com/

Ps : hari ini kurang pede dengan tulisan yang harus disetor ke 10daysforASEAN #Day 6#
Read More

Sabtu, 31 Agustus 2013

Rivalku = Partnerku

"Kalah dari Vietnam, RI Jadi Produsen Kopi Terbesar Ke-3 Dunia". Judul tersebut menghiasi media online Liputan 6.com. Saya sempat terfikir, kenapa ya, padahal wilayah Indonesia lebih luas dari Vietnam, selain itu Indonesia juga lebih dulu merdeka. Pasti ada sesuatu.

Jawabannya saya temukan kemudian. Menurut Direktur Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember, Teguh Wahyudi, produksi kopi Indonesia masih kalah dengan Vietnam karena beberapa sebab. Pertama, belum menggunakan bibit unggul kopi secara intensif dan merata. Kedua, masih kurang terampilnya para petani lantaran kurang maksimalnya penyuluhan yang diberikan oleh para perangkat pemerintah daerah. Ketiga, kurangnya dukungan pemerintah, khususnya pemerintah daerah. Mahalnya harga pupuk membuat kualitas dan produksi petani Indonesia tidak bisa maksimal. Keempat, teknologi yang kurang memadai. Lebih lengkapnya bisa dibaca di sini.

Melihat jawaban pak Direktur, menurut saya mudah saja jika Indonesia ingin meningkatkan produksi kopinya. Toh permasalahannya sudah ketemu, ya tinggal diatasi saja. Yang sulit itu kan jika akar permasalahannya saja tidak diketahui, bagaimana mengatasinya jika akar permasalahannya tidak diketahui. Yang diperlukan hanyalah kemauan dan kemampuan. Apakah kita mau dan mampu mengatasi permasalahan yang ada. Yang saya lihat dari berbagai permasalahan itu tidak lain terkait dengan peran pemerintah. Belum menggunakan bibbit unggul, kurangnya tenaga  penyuluh, mahalnya harga pupuk, masalah teknologi, semuanya bisa berbeda dengan peran serta yang maksimal dari pemerintah. Memang,tidak hanya peran pemerintah, namun peran semua pihak. 

Sekarang kita lihat kenapa vietnam bisa unggul produksi kopinya, padahal lahan kopi di vietnam tidak lebih besar dari Indonesia. Ternyata karena vietnam menggunakan bibit unggul dan pupuk terbaik, juga didukung penuh oleh pemerintahnya. Hmmm....sudah terlihat kan, kita bisa belajar dari vietnam tentang hal ini, tentang kemauan untuk meningkatkan produksi kopinya

Apakah Indonesia bisa mengungguli Vietnam? menurut saya bisa, jika ada kemauan untuk itu. Apakah itu berarti kita bersaing dengan vietnam dalam produksi kopi? ya, kenapa tidak. Persaingan itu bagus dan menyehatkan, asal dilakukan dengan cara-cara yang baik. Bukankah ada istilah "persaingan yang sehat". Jika tidak dilakukan dengan kecurangan, persaingan memang menyehatkan, karena bisa memacu kita untuk selalu maju. Misalkan jika Indonesia merupakan negara satu-satunya penghasil kopi di Dunia, mungkin justru Indonesia akan terlena dengan keadaan yang ada dan tidak meningkatkan produksi kopinya, malah mungkin menjadi mengeluh karena kewalahan menanggapi permintaan dunia. Saat itu kita mungkin merasa nomor satu, padahal sebenarnya justru kita jalan di tempat. seperti itulah pentingnya "rival". Secara tidak langsung "rival" justru semakin memacu kita untuk meningkatkan performa. 

Apakah kita tidak bisa menjadi partner dengan Vietnam dalam hal per "kopi" an ini? tentu saja bisa. berbagai kerjasama bisa kita lakukan (pemerintahnya maksudnya) untuk bersama-sama meningkatkan produksi kopi masing-masing negara. Apalagi Indonesia dan Vietnam sama-sama merupakan negara anggota ASEAN, yang salah satu tujuan dibentuknya memang untuk meningkatkan perekonomian negara anggotanya. Lagi pula, Vietnam kan memang sudah menjadi partner kita dalam produksi kopi. Loh kok bisa? ya itu tadi, seperti yang saya tulis di paragraf sebelumnya, persaingan Indonesia dan Vietnam dalam produksi kopi berguna untuk meningkatkan produksi kopi Indonesia. Nah apakah hal ini tidak bisa disebut sebagai partner? Persaingan dengan Vietnam dalam produksi kopi secara tidak langsung telah menjadikan Indonesia dan Vietnam menjadi partner bersama. Dengan tujuan yang sama, yaitu memenuhi permintaan kopi dunia.


Jadi, kenapa harus takut memiliki rival jika ternyata rival kita itu bisa menjadi partner kita dalam mencapai suatu tujuan... 




Sumber :

1. http://www.kemendag.go.i
2. http://www.tempo.co

10daysforASEAN # day 5 #
Read More

Jumat, 30 Agustus 2013

Rumahku Peraturanku, Rumahmu Peraturanmu

"Tok..Tok"...*suara pintu di ketuk
" Permisi Bu"
Pintu dibuka dan..."Cari siapa mbak?"
Pengetuk pintu : " Ini Bunda, saya mau menawarkan produk kecantikan"
Pemilik Rumah : "Wah, maaf mbak. Saya engga dulu ya, saya udah cukup cantik"...*Bunda pede
Pengetuk Pintu : "Ah, Bunda, saya belum juga menjelaskan. Boleh saya masuk dulu, nanti saya jelaskan informasi produknya"
Pemilik Rumah : "Maaf mbak, lain kali ya. Saya lagi repot. Kan tadi saya udah bilang saya udah merasa cantik"......*masih tetep pede
Pengetuk Pintu : baiklah...pergi sambil ngomel-ngomel

Pernah ngga mengalami kejadian seperti itu? Ada orang yang ingin masuk ke rumah kita dan tidak kita ijinkan, eh malah ngomel-ngomel. Saya sich tidak pernah, karena saya jarang di rumah..hehe. Lucu ya kejadian seperti itu. Itukan rumah kita, ya terserah kita dong siapa yang boleh masuk. Iya ngga...

Begitu juga dengan suatu negara. Negara merupakan rumah suatu bangsa atau suatu entitas politik (definisi menurut saya berdasarkan wikipedia). Karena negara merupakan rumah, maka untuk masuk ke dalam rumah tersebut ya harus seijin pemilik rumah. Apabila pemilik mengijinkan ya kita boleh masuk, apabila tidak mengijinkan ya kita nggak bisa masuk. Kalau kita masuk juga dengan tidak seijin pemilik rumah, kita bisa disebut pencuri. Dan seorang pencuri bisa dihukum meskipun tidak mengambil apapun di dalam rumah tersebut. Begitu juga dengan orang yang masuk ke suatu negara tanpa ijin, disebut imigran gelap, orang tersebut dapat dihukum.

Ijin yang diberikan oleh suatu negara untuk masuk dan tinggal sementara waktu di suatu negara disebut visa. Jadi, perlu ngga sich sebenarnya visa itu. Kalau menurut saya perlu. Seperti rumah kita, saat mengijinkan seseorang masuk, kita pasti akan melihat dulu siapa orang tersebut. Jangan sampai kita menerima tamu yang justru akan merugikan kita. Begitu juga suatu negara, jangan sampai yang masuk ke negara kita merugikan negara tersebut.

Menurut berbagai sumber, di beberapa negara ASEAN sudah membebaskan visa bagi negara anggotanya, jadi kita bebas keluar masuk negara tersebut tanpa visa. Berarti sebenarnya visa ngga penting dong?tuch nyatanya bisa bebas visa. Menurut saya pribadi, tidak bisa digeneralisir perlunya visa. Untuk kerjasama bilateral dan kemajuan berbagai bidang seperti ekonomi, pariwisata dan budaya, pembebasan visa memang bisa meningkatkan kemajuan pariwisata suatu negara. Tapi pembebasan visa bisa jadi hanya berlaku untuk beberapa negara saja. Contohnya Jepang, saat ini membebaskan visa untuk Malaysia dan Thailand, tapi tidak untuk Indonesia. Menurut kedubes Jepang untuk Indonesia, salah satu pertimbangannya karena masih banyak WNI yang overstay di Jepang (melebihi waktu ijin tinggal/terlambat mengurus ijin tinggal) -dari berbagai sumber- . Nah kan, berarti sah-sah saja apakah suatu negara akan membebaskan visa atau tidak. Semuanya tergantung pertimbangan negara masing-masing. Apakah negara tersebut akan dirugikan atau tidak dengan kedatangan seseorang. Memang pertimbangannya apa? Hmmm...kalau untuk menjawab pertanyaan ini, saya hanya bisa mengatakan mungkin terkait dengan keamanan, atau stabilitas ekonomi. Yang jelas dalam menetapkan pembebasan visa oleh suatu negara untuk negara lain, pasti sudah melalui kajian yang mendalam oleh ahli politik dan ekonomi negara tersebut. Yang perlu kita lakukan hanya menaati peraturan yang ada. Tidak bebas visa bukan berarti kita tidak boleh berkunjung kok, kita masih bisa berkunjung dengan mengurus visa sesuai peraturan yang ada. Jika semua peraturan dan persyaratan kita penuhi, pasti kita diberikan visa untuk mengunjungi negara tersebut. Bukankah dalam semua agama juga diatur masalah adab bertamu, nah begitu juga dengan bertamu ke negara lain. Ada peraturan atau adab yang harus kita patuhi.Rumahku peraturanku..Rumahmu peraturanmu...

Mau masuk ? Ketuk pintu dulu ^_^ (Gambar dari sini )


Sumber : 
1. http://id.wikipedia.org
2. http://dunia.news.viva.co.id
Read More

Kamis, 29 Agustus 2013

Indonesia, Beautiful Diversity

"Aslinya mana mbak?"
Pertanyaan itu seharusnya menjadi pertanyaan yang mudah dan singkat saja jawabannya. Tapi buat saya, menjadi sulit untuk menjawabnya. Jadi seringnya saya jawab saja : "Saya orang Indonesia". Eh yang nanya malah ngga puas, pasti melanjutkan pertanyaan. Jadilah obrolan singkat seperti ini .
Penanya : Indonesianya sebelah mana maksudnya mbak? Indonesia kan luas
Saya : Saya tinggal di Jakarta
Penanya : ooo...asli Jakarta?
Saya : maksudnya asli tuch gimana?
Penanya : ya lahir di Jakarta gitu?
Saya : Bukan, saya lahir di Jogja
Penanya : ooo orang Jogja. Tapi kok sampean ngga kayak orang Jawa, mirip orang Sumatera gitu?
Saya : Bapak saya memang orang Sumatera *mulai emosi
Penanya : berarti aslinya ya Sumatera, pinter bahasa sana berarti ya?
Saya : Ngga bisa, saya kan cuma bilang Bapak saya orang Sumatera....*tinggal pergi aja orangnya
Ya, seperti itulah contoh percakapannya, yang membuat saya bingung menjawab pertanyaan "asli mana". Saya memang lahir di Jogja, tapi sudah sangat lama tinggal di Jakarta. Ibu saya orang Jawa, Ayah saya orang Sumatera. Nah silahkan mengartikan sendiri saya ini orang mana...

Mungkin tidak hanya saya yang mengalami kejadian itu, saya yakin banyak teman-teman yang juga seperti saya. Bahkan teman saya lebih ruwet lagi, Ibunya keturunan Jawa-Manado, Ayahnya keturunan Sumatera-Ambon, dia sendiri lahir di Papua, tapi dibesarkan di Jakarta. Nah jadi lebih susah kan menjelaskan asal-usulnya. Jawaban yang pas ya sebut saja orang Indonesia. Bukan salah kita kok kalau seperti itu, salahnya Indonesia kenapa punya daerah yang begitu luas dan suku yang begitu banyak...*halah malah nyalahin Indonesia.

Dari Sabang sampai Merauke ( Gambar dari sini )

Indonesia memang luas kok, daerahnya saja dari sabang sampai merauke. "Dari sabang sampai merauke berjajar pulau-pulau"...*nyanyi-nyanyi sendiri. Saya pribadi baru menginjakkan kaki di sabang, tapi belum pernah ke Merauke, padahal umur saya sudah tua lho..hiks...*malah curhat. Bahkan karena luasnya wilayah Indonesia kita sampai memiliki 3 zona waktu yang berbeda (WIB, WITA, WIT). Keren ya Indonesia. Dari daerah yang begitu luas, wajar saja jika Indonesia terdiri dari beragam suku.  Dan pastinya setiap suku memiliki budaya dan adat yang berbeda. Jangankan yang beda suku, yang satu suku saja bisa punya beberapa logat bahasa dan pakaian khas daerah yang berbeda. Sebut saja suku Jawa ada Jawa Timuran, ada Jawa Tengah, ada Jawa Jogja...dll  (sepertinya masih banyak ragamnya, tapi karena bukan ahli budaya saya tidak bisa menyebutkannya satu persatu).

Selain bahasa dan budaya yang berbeda, makanan khas di Indonesia juga banyak ragamnya, ya itu tadi menyesuaikan daerah masing-masing. Sebut saja rendang dari padang, ikan dabu-dabu dari manado, gudeg dari Jogja dan masih banyak jenis makanan khas Indonesia. Kalau dibikin buku bisa tebel banget mungkin bukunya *yuk monggo siapa yang mau nulis tentang seluruh makanan khas Indonesia termasuk sejarah dan resepnya. Indonesia juga memiliki tipe daerah yang berbeda-beda, ada daerah pegunungan yang sejuk udaranya, ada juga daerah pantai yang cukup terik. Namun semua itu bisa menjadi tempat wisata yang menarik. Sebut saja Gunung Bromo di Jawa Timur, Pantai Kuta di Bali, Pantai Iboih di sabang, Raja Ampat di Papua. Walaupun berbeda-beda tapi semuanya cantik, semuanya Indonesia.

Keanekaragaman yang indah, itulah Indonesia. Hmmm...kenapa tidak dijadikan tagline untuk pariwisata Indonesia saja. Memang benar kan Indonesia itu penuh dengan perbedaan, dari Sabang sampai Merauke  semuanya berbeda. tapi semuanya indah. Indonesia memang kaya, banyak yang kita miliki, walaupun semua berbeda-beda. Justru itulah cantiknya Indonesia, dipenuhi dengan perbedaan. 
" Indonesia, Beautiful Diversity "
Senyum Indonesia yang berbeda-beda ( Gambar dari sini )
10daysforASEAN # Day 3 #


Read More

Rabu, 28 Agustus 2013

"Maju Bersama ASEAN"

Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) itu organisasi geo-politik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Kenapa didirikan? Menurut berbagai sumber, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggotanya, memajukan perdamaian dan stabilitas di tingkat regionalnya, serta meningkatkan kesempatan untuk membahas perbedaan di antara anggotanya dengan damai. Anggotanya siapa? seluruh negara di Asia Tenggara. Apakah itu berarti negara-negara di ASEAN itu serumpun? untuk jawabannya, mari kita telaah lebih lanjut *pasang kacamata biar kayak profesor :D

Pertama, apa yang dimaksud dengan serumpun? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) serumpun artinya satu nenek moyang, satu keturunan, sekelompok yang berasal dari satu induk. Perumpamaannya seperti saudara sekandung/satu keturunan (se-ayah dan se-ibu). Pada saudara sekandung pastilah ada kemiripan wajahnya ,saudara kandung se-ayah tapi tidak se-ibu ataupun se-ibu tapi tidak se-ayah juga pasti memiliki kemiripan wajah
walaupun sedikit saja. Perumpamaan ini asli dari saya lho, bukan dari KBBI..hehe. Kembali pada negara-negara di ASEAN? Apakah dapat dikatakan serumpun? Kalau melihat dari perumpamaan dari saya pribadi tadi, dikatakan serumpun jika ada kemiripan wajah. Dilihat dari kemiripan wajah, memang masih ada kemiripan antara penduduk negara-negara ASEAN. Contoh beberapa gambar berikut :

Filipina (gambar dari sini)
vietnam (gambar dari sini )
Brunei Darussalam (gambar dari sini )
Dilihat dari tipikal wajah dan warna kulit memang ada kemiripan, jadi apakah negara-negara di ASEAN serumpun?menurut saya tidak. Karena salah satu negara ASEAN adalah Indonesia. Mungkin dengan penduduk Indonesia bagian barat, masih ada kemiripan wajah dan warna kulit, namun tidak untuk penduduk Indonesia bagian Timur. Ini opini pribadi saya lho, tidak dijamin kebenarannya karena saya bukan ahli sejarah...hehe

Jadi maksudnya negara-negara di ASEAN tidak serumpun? Kembali ke pertanyaan itu, menurut saya tidak menjadi masalah apakah negara-negara di ASEAN serumpun atau tidak, karena tujuan dibentuknya ASEAN bukan karena serumpun. Kita tidak melihat sejarah asal nenek moyang kita saat membentuk ASEAN, tapi kita melihat tujuan ke depan. Bagaimana supaya negara-negara di Asia Tenggara ini dapat bersatu dan saling memajukan satu sama lain.

Sesuai dengan tujuan didirikannya ASEAN, diharapkan akan adanya stabilitas ekonomi dan perdamaian yang baik di Asia Tenggara, sehingga setiap negara di Asia Tenggara ini dapat semakin memajukan negaranya dengan dukungan dari negara-negara tetangga terdekat. Siapa lagi kalau bukan negara-negara di ASEAN. Umpamakan seperti kita dirumah, apabila mempunyai tetangga rumah yang judesnya minta ampun dan sukanya ngajak berantem, pasti hidup kita ngga enak kan?Kita jadi sibuk berantem dengan tetangga dan akhirnya malah tidak mengurusi rumah tangga. Nah, analoginya seperti itu. Bagaimana kita bisa membangun negara kita jika kita selalu bermusuhan dengan negara tetangga.  Jadi perlu sekali diciptakan hubungan kerjasama yang baik antara negara-negara di Asia Tenggara ini, yaitu dengan dibentuknya ASEAN.

Pada waktu pertama kali dibentuk, ASEAN hanya beranggotakan lima negara. Sekarang, sudah beranggotakan 10 negara atau dengan kata lain seluruh negara di Asia Tenggara sudah menjadi anggota ASEAN. Yeay...huray.. (eh negara Timur Leste belum jadi anggota, tapi itu masuk Asia Tenggara bukan ya? *fiu..tanya mbah Google dulu). Dengan 10 negara anggota  ASEAN, diharapkan dapat semakin meningkatkan perekonomian dan kemajuan sosial negara-negara anggotanya. Diharapkan perdamaian akan terus terjalin diantara negara-negara ASEAN. Persaingan memang tidak dapat dihindarkan, namun dengan bersatu di bawah ASEAN diharapkan akan tercipta persaingan yang sehat antar negara. 

Jadi kesimpulannya, marilah kita tatap kedepan, menyongsong masa depan dengan menyatukan visi dan misi untuk kemajuan ASEAN. Bersatulah Asia Tenggara, bersama ASEAN kita maju...

gambar dari sini
Sumber : 
1. http://id.wikipedia.org
2. http://kbbi.web.id/



















Read More

Selasa, 27 Agustus 2013

" Kembali Ke Selera Asal "

Salon....
Hmmm...apa yang ada dibenak kita saat mendengar kata salon? 
Kalau saya ditanya tentang salon 20 tahun yang lalu, saat masih memakai seragam merah putih -ups..ketauan umur dech :( -, saya akan menjawab salon itu tempat potong rambut dan tempat keriting rambut yang baunya minta ampun. Karena saat itu saya hanya mengenal fungsi salon sebagai tempat potong rambut dan kebetulan saat potong rambut bersamaan dengan orang yang sedang mengeriting rambutnya, *kebayang kan baunya di hidung anak kecil..:D.
Kalau saya ditanya tentang salon 10 tahun yang lalu, masih imut juga sich saat itu. Saya akan menjelaskan bahwa salon adalah tempat perawatan kecantikan yang lumayan mahal untuk mahasiswa kos-kosan seperti saya..hiks
Nah kalau ditanya tentang salon saat ini, jawaban saya pasti "Yuk, kangen spa-spa niy"....*gaya ya

Melihat metamorfosa definisi salon oleh saya pribadi, saya menyimpulkan bahwa, saya pribadi telah melihat perluasan fungsi dari salon berdasarkan kebutuhan. Kalau dulu kebutuhan saya akan salon hanya sebatas potong rambut, sekarang kebutuhan saya akan salon sudah meluas sampai ke tingkat perawatan tubuh.

Pertanyaan selanjutnya adalah, dengan banyaknya jenis salon yang ada saat ini, apakah saya selalu berganti-ganti salon?
Saya sadari, saat ini fungsi salon sudah sangat luas. Berbagai macam jenis salon bermunculan di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Mulai dari salon yang mengkhususkan diri dengan perawatan wanita, sampai salon khusus untuk ibu hamil dan bayi. Wow banget ya. Dan yang lebih wow lagi, rutinitas ke salon sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan sebagai kegiatan mengisi waktu liburan *pengalaman setiap ke mall pada waktu liburan melihat salon Johnny Andrean selalu penuh
Nah menjawab pertanyaan diatas, meskipun terdapat banyak salon dengan berbagai jenisnya, saya bisa katakan bahwa saya orang yang setia...*ehemm. Setia dalam artian, jika saya pergi ke salon dan sudah merasa cocok dengan salon tersebut saya akan setia datang ke salon itu. Namun karena saya juga suka hal-hal baru, saya tidak pernah ragu untuk mencoba salon baru...haha..*ngga konsisten

Masih berkaitan dengan salon, bagaimana jika ada salon thailand bersertifikat internasional yang di buka di Indonesia, lebih tepatnya di Jakarta?Apakah akan kesana?
Jawaban saya : emang ada ya? *haha..ga gaul..

Berbicara tentang salon Thailand ini. Saya membaca di koran-koran bahwa saat ini memang sudah ada tempat pijat Thailand di Jakarta. Contohnya Blush Traditional Thay Therapy yang terletak di kawasan Jakarta Selatan. Menurut iklannya, para terapisnya telah mengikuti pelatihan dan bersertifikat dari Thailand sana. Apakah ini termasuk kategori salon thailand? Saya sendiri tidak paham, karena yang terkenal dari Thailand memang pijatannya ya (menurut berbagai sumber), karena saya sendiri belum pernah ke Thailand..hehe..Dari iklan yang saya baca, dan beberapa ulasan di media cetak, pemilik Blush Traditional Thay Therapy ini orang Indonesia, dan terapisnya juga orang Indonesia yang dilatih di Thailand. Jadi tidak ada keterlibatan Thailand disini selain sebagai jenis pijatan. Bahkan aroma therapy yang digunakan justru diimpor dari Australia, bukan Thailand. 

Dari situlah saya berpendapat bahwa, apapun yang ada di Indonesia meskipun memakai nama yang terkesan "Luar Negeri", sebenarnya tetap merupakan milik anak bangsa. Hanya saja mengadopsi milik Negara Lain karena memang, sesuatu yang berbau "Luar Negeri" itu sangat laku di Indonesia. Apakah kemudian pijat-pijat ala Thai ini akan memusnahkan pijat-pijat ala Indonesia seperti pijat ala Bali atau ala Jawa? Saya rasa tidak, bagaimanapun saya merasa bahwa sebenarnya orang Indonesia itu sangat cinta akan negrinya. Meskipun ada keingintahuan akan sesuatu yang berbau "Luar Negri" seperti pijat ala Thailand ini, kerinduan akan nuansa pijat Indonesia tetap akan membuat kita kembali ke selera asal.

Huff....jadi serius kok ya pembicarannya? Jadi pengen pijet-pijet di salon...spa yuuk... :)

gambar dari sini

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=152775
http://pijatthailand.wordpress.com/

Read More

Minggu, 25 Agustus 2013

[2013 Indonesian Romance Reading Challenge] #1 "The Strawberry Surprise"

"Tak ada yang tahu bagaimana cara kenangan bekerja. Ia bebas keluar masuk ingatan seenaknya sendiri. Lalu, tiba-tiba sosoknya datang penuh kejutan. Menghampiri dan menawari cinta itu hadir kembali"

Kalimat dibelakang buku itu yang membuatku memutuskan untuk membaca buku ini. Pilihan kalimat yang aku suka, sepertinya "dalem banget". Secara aku suka nonton film korea yang menyentuh hati, jadi selera buku pun ngga jauh beda, suka sama yang modelnya unyu-unyu gini *ga penting...:D

Awal membaca buku ini aku sudah menebak bagaimana akhir ceritanya, pasti suatu "happy ending". Namun kalimat demi kalimat yang disajikan membuatku tidak bisa berhenti di tengah jalan.  

"Stroberi itu buah penuh kejutan. rasanya kadang manis, kadang masam. seperti memiliki kemungkinan yang tidak terduga"...."Nah, kisah cinta kurang lebih seperti itu. seperti stroberi"
-prolog-

Mengisahkan kisah cinta tidak biasa antara Aggi dan Timur. Diceritakan secara flash back dengan sangat baik oleh sang penulis, bahkan sampai di tengah cerita aku masih belum sadar kalau itu flash back...haha *lemot. 
Aggi digambarkan sebagai gadis penyuka strawberry dengan karakter yang menurutku sangat tidak biasa. Dalam benakku, gadis penyuka strawberry pastilah gadis girly yang sangat peduli pada penampilan, imut dan unyu-unyu, serta terkesan rapuh. Kalau untuk ukuran sekarang "Cherrybelle" banget lah. Namun penulisnya justru menggambarkan sosok Aggi sebagai wanita sederhana yang suka fotografi dan bekerja di galeri seni, tidak terlalu memperdulikan penampilan, meskipun sebenarnya cukup manis dan berkarakter kuat (kalau tidak bisa dikatakan keras kepala).
"....Relasi yang hampa. Apa baiknya mempertahankan relasi spesial kosong dengan angan-angan suatu saat hubungan ini akan membaik. Buatku, lebih baik berpisah....."...hal.124

Timur digambarkan sebagai sosok yang tampan, bekerja di biro iklan dan pandai bermain saxofon. kebayang ngga sich sexy nya...hehe. Aku membayangkan sosok Timur ini sangat mengenal dan mencintai Aggi.
" Tuhan, betapa dia merindukan suara Aggi...."...hal.239

Menurutku penulisnya benar-benar fokus pada ide cerita. Sepertinya ide awal penulisan ini dari "buah strawberry", yang digambarkan sebagai buah penuh kejutan dan dianalogikan seperti cinta yang juga penuh kejutan. Cerita dalam buku ini juga disajikan penuh kejutan, kisah-kisah yang tidak terduga ditampilkan. Bagian yang kurang aku suka, hanya pada saat Aggi menceritakan pria-pria lain yang dekat dengannya. Pria-pria itu seperti palsu, sangat jauh berbeda dengan Timur sehingga terkesan seperti khayalan Aggi saja. Selain itu cover buku ini juga kurang "eye catching" ya. Pendapat pribadi lho ya

Kesimpulannya :aku suka buku ini. Apalagi setting ceritanya di Yogyakarta  dan Bandung. Kota-kota yang terkenal romantis...*halah. Dan diceritakan Yogya- Bandung ditempuh dengan kereta api..Hmm...entah kenapa kereta api menurutku mempunyai aura romantisme. Saat membaca buku ini langsung terbayang romantisnya Jogja...-jadi pengen ke Jogja lagi- *ambisi pribadi :D

pict from : http://www.yogyes.com
Jadi bagi yang pengen menikmati bacaan ringan, yang bisa menimbulkan efek tersipu-sipu..silahkan dibaca bukunya mba Desi Puspitasari ini.. :)

Keterangan Buku :
Judul : The Strawberry Surprise
Pengarang : Desi Puspitasari
Tebal halaman : 267
Diterbitkan oleh : Penerbit Bentang
Cetakan pertama : Mei 2013


Ps : ini pertama kalinya nulis resensi novel, kelebihan dan kekurangannya harap dimaklumi.
Read More

Jumat, 23 Agustus 2013

Awali hari dengan “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak”

"Aku ngga suka kopi"....itu jawabanku setiap ditawari untuk minum kopi. "Aku hanya suka mencium aroma harumnya", itu jawaban lanjutanku setiap ditanya kenapa.

Di dalam keluargaku, tidak ada yang suka minum kopi, mungkin itulah alasannya kenapa aku tidak pernah minum kopi. Aku pernah mencoba minum kopi sekali waktu, penasaran dengan rasanya. Tapi setelah itu keputusanku tetap sama, aku ngga suka minum kopi. Mungkin karena aku tidak ahli menyeduh kopi -maklumlah aku bukan barista-, aku tidak bisa menemukan kenikmatan minum kopi, meskipun aku suka sekali mencium harum kopi. Itu sebelum aku mengenal "Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak"



Sampai suatu ketika, aku harus tinggal dan bekerja di Banda Aceh. Selain terkenal sebagai Serambi Mekah, kota ini juga dijuluki sebagai "Kota seribu warung kopi". Julukan ini diberikan karena hampir kemanapun kita pergi, kita akan bertemu dengan warung kopi. Dari cafe besar sampai warung kopi kecil-kecil yang ada di gang-gang di perkampungan penduduk.

Suatu hari aku dan teman-temanku mengunjungi salah satu warung kopi itu. Awalnya aku tidak mau memesan kopi, tapi salah seorang temanku bilang "ke warung kopi kok ngga minum kopi?". Jadilah aku memberanikan diri memesan kopi, dan mencoba "Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak". Ternyata pilihanku tidak salah, kopi ini rasanya berbeda dari yang pernah aku coba dulu. aku suka rasa manis tapi juga tidak suka yang terlalu manis. Perpaduan antara rasa manis dan pahitnya sangat sesuai. Rasanya pas di lidahku. Kesimpulannya : aku suka :)

Sejak itu aku jadi berani dan suka minum kopi. Apalagi saat itu aku sering bekerja sampai larut malam. Saat jenuh menghadapi tumpukan dokumen dan pedihnya mata di depan layar komputer, biasanya aku akan menyeduh dan menikmati kopi. Aku bisa mencoba berbagai macam kopi yang berbeda karena “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak” punya banyak pilihan rasa. Aku suka yang ini


dan yang ini,

 Ssst, rasa yang terakhir ini oke juga diminum panas lho... :)

Tinggal di Banda Aceh dengan seribu warung kopinya membuat aku dan teman-teman sering pergi ke warung kopi, hanya sekedar berbincang-bincang di sore hari atau sarapan di pagi hari. Apalagi warga disana juga terbiasa minum kopi, sehingga warung kopi selalu ramai pengunjung. Menikmati kopi di warung kopi menjadi suatu hiburan tersendiri bagi kami yang tinggal jauh dari keluarga. 

Kebiasaan minum kopi ini masih terbawa sampai aku pindah ke Jakarta. Walaupun sekarang aku jarang ke warung kopi, bahkan hampir tidak pernah, namun aku masih terbiasa minum kopi. Apalagi teman-teman di ruangan juga suka minum kopi, jadi aroma kopi begitu harum memenuhi ruangan. Saat itulah aku akan langsung menyeduh “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak”. Apalagi, ditemani roti tawar seperti bekal sarapanku pagi ini...hmmm...rasanya nikmat sekali



Selamat pagi. Selamat mengawali hari dengan "Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak"... ^_^




Disclaimer : tulisan di luar tanggung jawab PT. Santos Jaya Abadi
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

© haafidhanita-forever in love, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena